![]() |
| KASUBDIT III Kejahatan dengan Kekerasan Kriminal Umum (Jatamras) Polda Aceh, AKBP Sutry, saat menjajal mobil sport 'F1' rakitan Agung Perdana. |
* Ide Kreatif Pemuda Lamlhom
KALAU sudah hobi, apapun dilakukan, bahkan modal pas-pasan sekalipun tak menjadi halangan. Ibarat pepatah, tak ada akar rotan pun jadi.
Adalah Agung Perdana, mahasiswa Teknik Sipil Unsyiah yang berstatus non-aktif. Pemuda Desa Meunasah Mesjid, Kemukiman Lamlhom, Kecamatan Lhoknga ini mewujudkan obsesinya merakit sebuah mobil sport sekelas F1. Hampir 100 persen materialnya barang bekas, bahkan ada komponen dari engsel pintu. Luar biasa.
Agung termasuk maniak dalam hal bongkar pasang dan modifikasi kendaraan bermotor. Tidak hanya kuliah yang dia korbankan, sebagian uang dari usaha warung internet (warnet) juga ikut tergerus untuk mewujudkan obsesinya.
Ketika bincang-bincang dengan Serambi, Agung mengaku sejak kecil sudah hobi memodifikasi kendaraan. Korban pertamanya adalah Honda Tiger 2000. “Itu saya modifikasi sudah lama sekali, waktu SMA dulu. Mesinnya juga saya modifikasi,” kata Agung.
Hobi ternyata tak kenal kata henti. Begitu juga Agung. Ide kreatifnya terus bermain. Kali ini dia ingin mewujudkan sebuah mobil sport sekelas F1. Untuk merealisasikan obsesi itu, Agung rela mengambil non-aktif kuliah yang sudah memasuki semester VIII.
Sambil menjalankan usaha warnet, Agung terus mencari informasi. Setelah menemukan konsep yang cocok, Agung pun bergerilya mencari berbagai onderdil barang bekas yang dibutuhkan. Tidak kurang Rp 30 juta uang dari usaha warnetnya terkuras untuk ‘proyek’ pengumpulan onderdil. Semua komponen mobil ini kita rakit dari barang bekas,” kata Agung.
Pantauan Serambi, rangka (sasis) mobil menggunakan besi pipa teralis biasa, dapur pacu berisi mesin Honda Acord tahun 1982 berkapasitas 1.500 cc, stir racing usang, dan ban merek Achiles yang juga bekas. Mobil ini juga dilengkapi shock breaker bekas sepeda motor Honda. Agung bahkan tidak segan menggunakan engsel pintu rumah untuk salah satu komponen F1-nya.
‘Pabrik’ F1 milik Agung di belakang rumahnya, pada sebuah bengkel kecil berdinding goni plastik, dengan peralatan serba manual.
Dengan semangat tak kenal menyerah, Agung sukses merampungkan perakitan F1 dalam waktu empat bulan. Betapa bahagianya Agung ketika sistem mesin mobil tersebut bekerja sempurna. Bahkan, ketika uji pacu, mampu meluncur hingga 120 Km/jam.
Beberapa malam sebelum Lebaran Idul Fitri 1432 H, Agung mencoba mobilnya di kawasan Peunayong, Banda Aceh. Namun sial, saat sedang asyik-asyiknya keliling kota, kepergok Polantas, dan akhirnya ‘mobil aneh’ itu sempat ditahan selama seminggu.
Setelah F1-nya bebas, Agung semakin sering keluar dengan mobil sport-nya. “Polisi hanya minta agar saya menggunakan helm saat mengendarai mobil ini,” ujar Agung.
Bertemu Sutri Hamdani
Agung menceritakan, ketika sedang jalan-jalan pada malam minggu kemarin, dia bertemu dengan AKBP Sutri Hamdani, Kasubdit III Kejahatan dengan Kekerasan Kriminal Umum (Jatamras) Polda Aceh, yang kebetulan juga sedang berkeliling kota.
“Malam itu saya sedang jalan-jalan, tiba-tiba lewat mobil dia. Saya pikir selundupan, karena saya polisi, ya saya kejar. Saya semakin tertarik ketika dia menceritakan mobil itu rakitan sendiri,” kata Sutri, mantan Kepala Densus 88 Polda Aceh.
Sutri mengatakan, melihat hasil karya tersebut, timbul niatnya untuk membina anak-anak muda kreatif di Aceh. Bersama Agung dan Husaini M Amin (Tgk Batee), pengusaha yang juga mantan kombatan GAM, mereka sepakat membentuk suatu wadah yang menjadi tempat mengasah kreativitas anak muda Aceh. Dia mengajak seluruh pemuda Aceh yang punya keahlian agar bergabung dan sangat berharap Pemerintah Aceh bisa mendukung ide tersebut. “Dalam wadah itu nantinya diharapkan kreativitas mereka akan semakin terarah,” ujar Sutri Hamdani.
selengkapnya


0 komentar:
Posting Komentar